Pertanyaan Dua : Sebagian orang bertanya-tanya mengapa kita tidak bisa melihat Allah. Bagaimana menjawab mereka?

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, rasa syukur tiada terkira insyaAllah tetap mengalir dari lidah dan hati kita kepada Allah SWT yang jiwa kita berserah kepada-Nya.

Salam dan shalawat tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad saw.

Rahmat dan keselamatan Allah kepada sahabat sejati, Khulafaur Rasyidin.

MELIHAT adalah masalah kemampuan untuk mencakup. Misalnya, terdapat banyak bakteri di tubuh manusia. Dalam sebuah gigi saja bisa jadi ditemukan jutaan bakteri. Bakteri-bakteri itu dengan kemampuan yang diberikan kepadanya dapat melubangi dan merusak gigi manusia. Namun, manusia tidap mampu mendengar suara atau kegaduhannya sebagaimana ia tidak merasakan keberadaannya. Di sisi lain, bakteri itu pun tidak bisa melihat dan mencakup manusia. Untuk bisa mencakup dan melihat manusia, ia harus berada di tempat yang bebas dan di luar tubuh manusia serta pada saat yang sama ia juga harus memiliki mata teleskopik. Dengan demikian, ketidakmampuannya dalam mencakup manusia membuatnya tidak bisa melihat manusia. Ia tidak mampu selain melihat apa yang ada di depannya saja. Setelah contoh dari dunia kecil ini, mari kita beralih kepada dunia yang besar.

Bayangkanlah engkau duduk di depan teleskop besar yang mampu menjangkau tempat sejauh empat miliar tahun perjalanan cahaya. Meskipun demikian, pengetahuan kita tentang alam dan tentang tempat itu terbilang hanya setetes dari lautan. Mungkin kita bisa mengetahui beberapa teori dan informasi yang tidak begitu jelas seputar bidang atau wilayah yang terjangkau oleh teleskop itu, lalu berdasarkan teori dan informasi itu kita bergegas untuk sampai kepada teori dan informasi lainnya. Namun, kita tetap tidak mampu secara sempurna mencakup alam, baik esensinya dan luasnya maupun bentuk umumnya dan kandungannya. Itu karena, sebagaimana kita tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat kecil (mikrokosmos), kita juga tidak mampu mencakup dengan sempurna jagat besar.

Dari sini jelaslah bahwa meskipun memiliki mikroskop dan sinar x, kita tidak dapat mencakup secara menyeluruh mikrokosmos sekalipun. Demikian pula kita tidak dapat mencakup secara menyeluruh makrokosmos. Sekarang marilah kita merenung tentang Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Tujuh lapis langit berada di singgasana (kursi) Tuhan tak ubahnya seperti tujuh keping dirham yang dilemparkan ke gurun.” Abu Dzar ra. mendengar Rasulullah bersabda, “Singgasana (kursi) berada di arasy tak ubahnya seperti sebuah cincin besi yang dilemparkan di antara dua penjuru sahara bumi.2

Bayangkanlah keagungan yang luar biasa itu! Kalian-jika dibandingkan dengan alam ini-ibarat benda-benda kecil yang terlihat dengan mikroskop, bagaimana mungkin menjangkau seluruh alam? Sedangkan, seluruh tempat dan alam jagat raya ini, jika dibandingkan dengan Arasy Allah, pun laksana benda-benda kecil yang hanya terlihat dengan mikroskop, padahal Arasy barulah tempat penerapan kehendak dan perintah Ilahi. Bukankah ini adalah kesibukan yang sia-sia? Jika kemudian, apatah lagi kalau engkau menjangkau Allah Swt.

Karena itu, Al Qur’an menyebutkan, “Semua mata tidak dapat menjangkau-Nya, sedangkan Dia menjangkau semua mata.3 Benar. Semua mata dan pikiran tidaklah dapat menjangkau-Nya dan tidak dapat pula mencakup-Nya. Untuk bisa melihat, perlu kemampuan untuk mencakup. Dia menjangkau semua mata dan penglihatan karena Dia dapat mencakup segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Sementara itu, semua mata dan penglihatan tidak mampu menjangkau-Nya. Karena itu, hal ini harus diketahui agar semua aspek masalah ini menjadi jelas.

Dari aspek lain, cahaya merupakan hijab dan tirai Allah Swt. Kita tidak mampu bahkan untuk mencakup cahaya-Nya. Para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Saw. sesudah kepulangan beliau dari mikraj, “Apakah engkau melihat Tuhan?” Rasul Saw menjawab, “Aku melihat cahaya.” Cahaya adalah makhluk Allah Swt., sedangkan Allah adalah Penerang dan Pembentuk cahaya. Cahaya bukanlah Allah. Ia adalah makhluk-Nya. Hal ini ditegaskan oleh hadits lain yang berasal dari Allah Swt. (hadis qudsi): “Hijab-Nya adalah cahaya.4 Artinya, terdapat cahaya antara kalian dan Dia. Kalian diliputi dengan cahaya. Di sini ada makna lain. Kami ingin mengatakan sekali lagi bahwa Dia diliputi, namun dengan sifat-sifat-Nya bukanlah sesuatu yang lain dari-Nya dan bukan pula esensi-Nya.

Ketika kita membahas berbagai masalah yang terkait dengan ketuhanan, persoalan begitu dalam dan sulit hingga berat untuk dipikul. Sebagai kesimpulan, kita bisa mengatakan bahwa Allah Swt tidak bisa dijangkau oleh penglihatan makhluk dan bahwa hijab-Nya adalah cahaya. Sekarang marilah kita meninjau masalah ini dari aspek ketiga. Seorang penyair sufi menggubah:

Tiada tanding dan tiada banding bagi Tuhan-Ku

Tiada yang menyamai dan meyerupai-Nya

Dia menjauh dari seluruh gambaran

Dia Mahasuci …

Mahatinggi Allah.

Pertama-tama, tidak ada tandingan atau lawan bagi-Nya. Hal ini sangat penting. Untuk bisa  dilihat, sesuatu harus ada lawannya. Engkau bisa menyaksikan cahaya karena ada lawannya, yaitu gelap. Demikian pula, engkau bisa memperlihatkan pendanganmu tentang panjangnya sesuatu dengan berkata, “Ini satu meter dan ini tiga meter,” karena ada lawannya. Karena itulah kita bisa meletakkan sesuatu dalam urutan. Allah bahkan tidak seperti cahaya yang bisa engkau lihat karena ada lawannya, yaitu gelap, sebab tidak ada lawan atau tandingan bagi-Nya.

Mari kita bahas dari sudut pandang fisika. Berapakah ukuran yang bisa dilihat oleh manusia dari alam yang terhampar di depan matanya ini? Ya, apakah kalian dapat menyebutkan ukuran sesuatu yang bisa kalian lihat? Katakanlah bahwa jumlah sesuatu yang terhampar di alam ini mencapai 1 miliar x 1 miliar agar kita bisa menyaksikan keagungan Sang Pencipta dan menatapnya dengan penuh kekaguman. Namun, penglihatan kita hanya bisa melihat lima per sejuta darinya, sementara sisanya kita tidak bisa lihat dan tidak kita ketahui. Benar, yang bisa kita lihat hanyalah gelombang cahaya dengan panjang dan frekuensi tertentu. Dengan demikian, renungkanlah betapa cacatnya pertanyaan sebagian orang: “Mengapa aku tidak bisa melihat Allah?” Mereka menanyakan hal ini, sementara mereka tidak mengetahui kalau dirinya hanya mampu melihat lime per sejuta dari alam ini. Sesudah itu, mereka juga ingin meletakkan Allah dalam wialyah yang sama. Sungguh sebuah pemikiran yang kerdil.

Pada hari Kiamat, orang yang mencurahkan pikirannya di dunia di hadapan ayat-ayat semesta (kauniyah) bisa melihat-Nya. Karena itu, Nabi Musa as. dan penghulu para Nabi, yaitu Nabi Muhammad Saw, ketika itu dapat melihat-Nya. Adapun orang-orang lain akan melihat-Nya sesuai dengan tingkatan masing-masing. Ini merupakan dorongan dan rangsangan yang kuat untuk merenung dan berpikir. Mereka yang ingin menggapai derajat tinggi di akhirat harus memperbarui hati dan pikiran mereka. Lebih tepatnya, di dunia ini mereka harus memiliki perhatian yang tinggi serta jiwa dan pemikiran yang sesuai dengan keinginannya untuk bisa melihat Allah pada hari Kiamat. Dengan kata lain, mereka tidak boleh meninggalkan dunia ini dengan bekal yang sedikit. Tentu saja, semua sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Sang penyair sufi, Ibrahim Haqqi, mengungkapkan sebuah hadits daif lewat bait-bait syair gubahannya:

Sang Mahabenar berfirman,

“Aku adalah harta kekayaan

yang tidak tertampung oleh bumi

dan tidak pula oleh langit,

tetapi kalbu dapat menampung-Ku.”

Jadi, betapa agung karunia dan nikmat Zat Yang Mahasuci yang seluruh alam tidak sebanding satu butir atom pun di hadapan keagungan-Nya. Betapa besar nikmat-Nya atas setiap mukmin ketika Dia tampak dalam kalbunya sebagai kekayaan sekaligus mengantarkannya kepada ketenangan dan ketenteraman. Akhirnya, Allah a’lam bi-al-shawab (Allah lah yang paling tahu tentang apa yang benar).[]

2Tafsir al-Thabari, III, 77. Riwayat tersebut berasal dari Yunus dari Ibnu Wahb dari Ibnu Zaid dari Ayahnya.

3QS al-An’am (6): 103.

4HR Ibnu Majah, Pendahuluan, 13.

Penulis Muhammad Fethullah Gülen dalam Islam : Rahmatan lil ‘alamin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: