Kisah Nelayan dan Pandai Ilmu : Menghargai Pengalaman

BEBERAPA waktu yang lalu, saya mendapat sebuah cerita sarat makna yang menurut saya sangat penting bagi kehidupan kita semua apalagi yang sering berkecimpung di dunia organisasi atau kelompok kerja. Kisah ini bercerita tentang seorang Pandai Ilmu yang pergi berlayar bersama seorang Nelayan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Alkisah, seorang Pandai Ilmu sedang berlibur setelah sibuk dengan segudang aktivitas. Dia kemudian memutuskan untuk pergi ke pantai seraya memandangi panorama laut yang indah. Disana dia bertemu dengan seorang Nelayan yang sedang membersihkan perahunya. Pandai Ilmu ini pun meminta si Nelayan untuk membawanya ke laut lepas.

Di perjalanannya, si Pandai Ilmu itu bertanya kepada Nelayan, “Wahai nelayan, apa-apa saja yang kamu tahu tentang ilmu Geografi?” Si Nelayan menjawab, “Yang saya tahu dari ilmu Geografi adalah ketika air laut sudah sering pasang maka musim penghujan akan segera tiba.” Si Pandai Ilmu pun langsung berkata, “Nelayan bodoh! Tahukah, kamu telah kehilangan seperempat kehidupannmu karena tidak mengetahui ilmu geografi.”

Pada perjalanan berikutnya, si Pandai Ilmu itu bertanya lagi kepada Nelayan, “Wahai nelayan, tentang ilmu sains Biologi, apa-apa saja yang kamu tahu darinya?” Nelayan kemudian menjawab, “Apa yang saya tahu dari ilmu sains Biologi hanyalah jenis-jenis ikan yang dapat dimakan.” Si Pandai Ilmu lalu berkata, “Nelayan bodoh! Kamu telah kehilangan lagi seperempat kehidupanmu karena tidak mengerti tentang ilmu sains Biologi.”

Di perjalanan selanjutnya, si Pandai Ilmu kembali bertanya kepada Nelayan itu, “Wahai nelayan, beritahukan kepada saya, apa-apa saja yang kamu ketahui tentang ilmu Matematika.” Nelayan lalu menjawab, “Menghitung jumlah ikan yang saya tangkap dan mengetahui untung ruginya ketika menjual ikan di pasar. Itulah yang saya tahu dari ilmu Matematika”. Kembali si Pandai Ilmu berkata, “Nelayan bodoh! Kamu benar-benar telah kehilangan seperempat kehidupanmu lagi.”

Ketika mereka sudah cukup jauh dari pantai, si Pandai Ilmu itu bertanya, “Apa maksud dari awan hitam yang menggantung itu?” “Badai akan segera datang dan akan membuat lautan ini sangat berbahaya dan bergelombang”, jawab Nelayan itu. Si Nelayan kemudian bertanya, “Apakah saudara bisa berenang?” Dan ternyata si Pandai Ilmu itu tidak dapat berenang, Nelayan lalu berujar, “Saya boleh saja kehilangan tiga perempat kehidupan saya karena tidak mempelajari tiga ilmu yang saudara utarakan, tapi saudara akan kehilangan seluruh kehidupan anda.”

Nelayan itu pun berenang ke pantai meninggalkan si Pandai Ilmu yang tenggelam dihantam badai.

Dalam kehidupan, kita sering kali menganggap remeh kemampuan orang lain lantaran perbedaan ilmu dan kedudukannya. Sering terlontar di hati kita ‘Apa sih yang dia tahu?’ atau ‘si Anu tidak tahu apa-apa tentang ini’. Padahal, adakalanya seseorang yang kita anggap ‘tidak mampu’ itu punya kelebihan dalam mengetahui dan menyelesaikan masalah secara spesifik.

Seorang polisi lalu lintas berpangkat rendah mungkin lebih tahu permasalahan lalu lintas dibandingkan dengan atasannya. Atau seorang teknisi pesawat terbang mungkin lebih tahu tentang keadaan pesawatnya dibandingkan dengan pilotnya sendiri. Orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari boleh dibilang memahami lebih rinci apa yang digelutinya, dibandingkan dengan orang luar yang hanya memahami kulitnya saja.

Sayangnya, kita (termasuk saya) sering dibutakan oleh ego, jabatan, kedudukan, pangkat, dan status sehingga menganggap remeh orang yang pendidikan dan jabatannya berada di bawah. Dan seringkali juga, kita tidak bertanya kepada anggota kelompok atau organisasi. Atau pun bila kita bertanya, hanya sekedar basa-basi dan formalitas diskusi kelompok belaka.

Kita tidak bisa cuma mengandalkan kemampuan sendiri. Karena dalam suatu kelompok, keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain juga. Begitu ada permasalahan yang timbul, kemampuan sendiri tidaklah cukup untuk mengatasinya. Kita perlu menggabungkan kemampuan orang lain

Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih dapat ditolong oleh orang yang kemampuannya kita hargai. Semoga bermanfaat c:

Advertisements

2 responses

  1. yach aq jg sprti itu….
    Tp aq brsha agar teruz mrndah kn hti, krn mnrut sy orng yg bodoh dlm swtu pkrjan bkan brrti ia bodoh dlm smua hal, dn pmkran itu sring mnjd tolak ukur kt dlm menilai ssorng,,,,
    smga allOh subhanallah wa ta’ala slalu mrndhkn hti kita

    1. Alhamdulillah
      aamiin, inshaAllah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: