Meningkatkan Keterbukaan Pikiran

Sering tidaknya seseorang terlibat dalam suatu permasalahan akan mempengaruhi pemahamannya terhadap permasalahan itu. Semakin sering seseorang terlibat dalam suatu permasalahan, semakin mendalam pemahamannya tentang permasalahan itu. Dengan pemahaman yang tinggi, ia makin mampu menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di seputar permasalahan tersebut, termasuk tentang cara-cara yang mungkin digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Ia juga mengerti intisari masalah dan prinsip-prinsip umum penyelesaian masalah. Dengan mengusai inti sari masalah dan prinsip-prinsip penyelesaiannya, ia dapat menemukan dan menciptakan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Ia juga mengerti bahwa cara yang ada hanyalah salah satu cara yang dapat digunakan sehingga tidak terpaku hanya pada satu cara saja. Ia dapat menggunakan cara lain yang dianggapnya tepat meskipun cara itu berbeda dengan cara orang kebanyakan.

Membaca karya sastra yang beragam dapat meningkatkan kompleksitas pikiran karena si pembaca akan berhadapan dengan berbagai kejadian yang digambarkan dalam karya-karya itu. Meskipun hanya sebatas kognisi dan afeksi, pembaca karya sastra mendapat pengalaman menyelami seluk beluk tokoh dan peristiwa dalam karya sastra yang dibacanya. Pembaca juga dimungkinkan berempati, bahkan bersimpati pada tokoh cerita. Di sini pembaca sangat dimungkinkan untuk mengambil peran tokoh cerita. Ia memiliki kesempatan untuk berpikir, merasa, dan menghayati dunia dengan menggunakan sudut pandang tokoh. Pengalaman yang memberi kesempatan pada seseorang untuk bertukar peran atau role-taking dengan orang lain yang memiliki latar belakang berbeda meningkatkan kemampuan seseorang dalam menilai suatu hal dari berbagai sudut pandang (Kohlberg, 1984). Dengan kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, ia dapat melihat berbagai alternatif pemecahan masalah yang dengan sendirinya meningkatkan kemampuannya memecahkan persoalan.

Pengalaman dimana seseorang memiliki kesempatan untuk bertukar peran atau role-taking dengan orang lain yang memiliki latar belakang berbeda meningkatkan kemampuan seseorang dalam menilai suatu hal dari berbagai sudut pandang (Kohlberg, 1984). Untuk bisa berpikir kritis seseorang harus mampu melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang, termasuk dalam menilai sebuah informasi. Dengan kemampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, kemampuan berpikir kritis makin meningkat.

Secara umum, peningkatan keterbukaan pikiran selalu melibatkan komunikasi yaitu proses penyampaian ide, pikiran, dan keahlian suatu pihak kepada pihak lain. Dalam komunikasi terjadi pertukaran informasi, masing-masing orang akan mencurahkan isi pikirannya kepada orang lain. Komunikasi yang efektif akan menghasilkan pengertian yang menyeluruh tentang pikiran dan perasaan seseorang. Merujuk pada Habermas, manusia memiliki pikiran intersubyektif berupa kemampuan untuk mengerti dan memahami pikiran dan perasaan  orang lain, mengerti apa yang diungkapkan orang lain. Dengan kemampuan berpikir intersubyektif yang baik seseorang dapat mengerti informasi-informasi dari orang lain dengan baik. Dengan demikian ia bisa mengetahui maksud sebenarnya dari informasi yang diterimanya itu. Ia mampu memahami mengapa seseorang mengemukakan suatu pendapat, apa yang melatar belakanginya dan untuk tujuan apa. Pemahamannya itu membuat memiliki pengetahuan tentang banyaknya pendapat yang berbeda-beda yang masing-masing memiliki kemungkinan untuk benar. Hal ini membuat ia tidak kaku terhadap satu pendapat saja. Dengan pemahamannya ini ia terdorong untuk melakukan proses dialog setiap kali akan mengambil tindakan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Hal ini akan meningkatkan keterbukaan pikirannya.

Kegiatan komunikasi yang dilakukan dalam diskusi, tanya-jawab, permainan-permainan yang melibatkan proses komunikasi, dan memberikan umpan balik kepada pendapat orang lain. Kegiatan terlibat dalam berbagai permasalahan, membaca  karya sastra, dan pengalaman bertukar peran mengandung kegiatan komunikasi di dalamnya.

Ketika terlibat dalam berbagai permasalahan terbina komunikasi antar orang yang ikut ambil bagian dalam penyelesaian masalah-masalah di dalamnya. Jika hanya satu orang yang terlibat dalam penyelesaian masalah, paling tidak ia melakukan perujukkan pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, baik pengalamannya maupun pengalaman orang lain. Pada saat membaca karya sastra, secara psikologis si pembaca melakukan komunikasi dengan penulis dan tokoh-tokoh dalam karya itu. Dalam komunikasi harus ada hubungan yang sejajar antara peserta komunikasi. Kebebasan tiap peserta komunikasi harus ditegakkan untuk mencapai hasil yang diinginkan: keterbukaan pikiran.

http://bagustakwin.multiply.com/journal pada Feb 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: